Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung kami, terutama para bloger yang telah memberi doa restunya..
Pet putih kesayangan

Melangkah menuju Gapura Pedang

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung kami, terutama para bloger yang telah memberi doa restunya..
Pet putih kesayangan

Melangkah menuju Gapura Pedang
Saya menemukan kalimat ini tercantum pada sebuah papan reklame ketika berkunjung ke negerinya Corazon Acquino. Pada saat itu saya bisa dibilang sebagai seorang perokok musiman, ya.. Saat kapal berlayar kadang saya merokok untuk menghilangkan ngantuk, selama kapal di pangkalan sebisa mungkin saya quit..
Namun tidak jarang terkadang saya sering merokok saat tidak berlayar, terutama saat sehabis makan jika tidak ditutup dgn rokok sepertinya kurang sreg dan ada yang kurang. Meskipun merokok sehari cuma 2 – 4 batang ataupun terkadang tidak merokok sama sekali dalam sehari namun tetap saja saat itu saya tidak bisa lepas dari yang namanya rokok karena merokok sudah menjadi selingan di saat sibuk.
Libur panjang berkenaan dgn imlek 2009 tidak saya sia siakan begitu saja, kesempatan ini saya gunakan untuk pulang kampung menjenguk orang tua sekaligus menarik diri dari kesibukan pekerjaan yang selama ini kian bertambah.
Membaca berita di harian Jawa Pos hari ini yang berjudul “Warga Pulau Sebatik, Hidup di Bawah iming-iming Kemakmuran Malaysia” mengingatkan saya ketika terakhir kali saya berkunjung ke pulau ini. Saat itu kami (para perwira kapal ) menyempatkan diri untuk mengunjungi pos terdepan yang berada di pulau sebatik, berhubung kapal tidak bisa merapat maka kami pun melaju dengan menggunakan speed boat milik Pos TNI AL yang datang menjemput.
Pulau Sebatik terletak di bagian utara kalimantan dan terbagi menjadi 2 wilayah yaitu wilayah Indonesia dan wilayah Malaysia, diseberang laut terletak kota Tawau (wilayah malaysia) yang jika kita lihat pembangunannya bagaikan langit dan bumi bedanya jika dibandingkan dengan wilayah sebatik yang menjadi milik Indonesia. Jarak yang dekat antara keduanya membuat banyak penduduk yang lebih memilih menjual hasil buminya ke Tawau daripada ke kota lain di Indonesia, sama halnya dengan bekerja ataupun menuntut ilmu di kota tersebut. Jangan heran jika di Tawau banyak terdapat orang Indonesia karena wilayah ini juga merupakan pintu masuk bagi TKI baik legal maupun illegal ke wilayah malaysia. Konon katanya dulu ketika pulau sebatik masih sangat sepi dan benar-benar terpencil, banyak penduduk yang lebih memilih untuk masuk dan hidup di Tawau sehingga kota Tawau menjadi maju seperti sekarang dan mereka enggan untuk kembali. Wah semoga saja penduduk sebatik yang sekarang tidak melupakan di negara mana mereka tinggal, jangan-jangan mereka lebih memilih menjadi WN malaysia lagi.. cilaka !
Mengurus pernikahan ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Apa-apa yang ada di dalam benak saya tentang pernikahan dan persiapannya menjadi buyar seketika saat saya menjalaninya. Semula saya berpikir menikah cukup dengan “melaporkan” ke catatan sipil, tentunya dengan tetap ada persetujuan atau surat ijin dari atasan. Nah, memang benar tapi hal2 yang harus dipersiapkan dalam rangka mendapat ijin dari atasan inilah yang memang lumayan banyak jumlahnya, belum lagi untuk urusan catatan sipil. Berhubung calon istri saya berdomisili di Solo tapi bekerja di Jogjakarta, sedangkan saya sendiri berdinas di Surabaya sedangkan Keluarga (Ortu) masih di Tegal maka mondar-mandirlah saya menempuh jarak berjam-jam antara Surabaya-Solo-Jogja-Tegal dengan membawa berlembar-lembar kertas hanya untuk memperoleh Legalisir dan tanda tangan. Itupun tidak sekali dua kali namun berkali- kali jika ingin cepat selesai. Belum lagi jika pejabat yang bersangkutan tidak ada di tempat, terpaksa kita tunggu dengan penuh kesabaran atau blangko nya kita tinggal untuk diambil keesokan harinya, namun pilihan yang terakhir ini membuat waktu kita jadi molor. Berhubung saya orangnya paling malas menunggu, maka yang sering saya lakukan adalah langsung menghadap Pak Lurah serta Camat di ruangan kerja lengkap dengan pakaian Dinas kebanggaan saya untuk meminta tanda tangan beliau sembari berkata :“Pak, saya mau kawin.”… ha..ha..ha.. tapi tetap dengan wajah yang ramah serta sumringah demi menghormati jabatan beliau sekalian.. maksudnya agar urusan bisa cepat selesai dan saya bisa mengerjakan yang lain he3… Dulu saya pernah menyindir rekan yang mengurus nikah dengan berkata “Niat amat ngurus nikah!” ternyata kini saya menerima karma nya hikks..
Lama absen dari dunia blog akibat kesibukan pekerjaan membuat blog saya sejenak terlupakan, rasanya berat sekali untuk menulis kembali karena perasaan enjoy yang dulu ada ketika blog ini saya luncurkan mulai hilang sedikit demi sedikit. Kini saya mencoba kembali untuk melihat blog ini dengan mengumpulkan serpihan-serpihan kenikmatan dalam ber-blogging yang dulu pernah ada di dalam diri saya. Kenikmatan saling bertegur sapa dengan kawan-kawan setia yang sampai saat ini masih selalu mengunjungi blog saya meskipun lama tidak saya update. Berdosa rasanya meninggalkan kawan-kawan yang dulu pernah akrab berkunjung ke blog ini begitu saja, oleh karena itu sekali lagi terimalah permohonan maaf dari saya yang telah lama hiatus dari dunia ini.
Meskipun lama tidak menulis di blog ini namun saya tetap suka membaca tulisan-tulisan para blogger lainnya yang selalu menambah pengetahuan pada diri saya ataupun menambah pelajaran hidup dari tulisan yang menceritakan pengalaman keseharian para blogger, oleh karena itu saya berpesan kepada para sahabat karib di dunia blogger untuk tetaplah semangat dalam nge-blog !! jangan biarkan virus hiatus terlalu lama menggerogoti alam pikiran kita, karena kalau kelamaan maka kita akan kecanduan oleh zat hiatus yang adiktif tersebut.
Tetaplah semangat !! jangan seperti saya :mrgreen:
Pro Deo Et Patria
Saya tidak menyangka pengalaman yang dialami mas abdee ataupun komentar yang masuk di dalam posting mas wahyu ternyata juga sempat saya alami. Ketika itu saya sedang menunggu bis untuk kembali ke surabaya, tiba2 datang seorang pemuda ke tempat tunggu untuk duduk di bangku sebelah saya. Dan dimulailah percakapan itu :