“We salute the rank not the man”… kalimat ini langsung terekam dalam memori saya sampai sekarang sejak pertama kali mendengarnya dalam mini seri “Band Of Brothers” beberapa tahun lalu. Adalah ucapan yang dilontarkan oleh Major Dick Winters kepada Captain Sobel yang tidak menghormat kepadanya, mungkin karena si Kapten merasa malu berhubung si Mayor dulunya adalah bekas anak buah sang Kapten tersebut.
Untungnya sampai saat ini saya masih bisa membedakan mana penghormatan yang saya berikan terhadap pangkat maupun penghormatan terhadap orangnya. Meskipun kasusnya agak berbeda, terkadang jika ada seorang senior ataupun atasan yang tidak kita sukai akan mengakibatkan diri kita menjauh serta menghindar darinya, bahkan bisa jadi di lingkungan kerja saya untuk menghormatinya pun kita terasa enggan. Padahal penghormatan tangan adalah untuk menghormati pangkatnya yang lebih tinggi dan bukan menghormati sosok orangnya. Terkadang malah terasa lebih baik untuk mengambil jalan memutar agar tidak berpapasan langsung dengan orang yang tidak disukai karena takut diberi teguran jelek atau kerjaan lebih, apalagi perintah-perintah yang tidak ada hubungannya sama sekali terhadap dinas/pekerjaan kita.
Kalau hal ini sudah terjadi maka kehidupan berorganisasi sudah tidak berjalan dengan baik, entah bagaimana untuk membuat sang senior merasa sadar karena kita pun sungkan untuk menyampaikannya. Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi terhadap senior / atasan yang menjengkelkan kita, sadar atau tidak terhadap rekan kerja kita sendiri yang karirnya lebih baik dan pada akhirnya mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari kita mengakibatkan kita sering iri dan malah masih bersikap layaknya teman satu level di kantor. Padahal ada wibawa rekan kita tersebut yang harus dijaga didepan bawahannya.
Saya yakin hal ini sering terjadi dimanapun kita bekerja, baik di tempat anda maupun institusi saya. Alangkah lebih baiknya jika kita bisa membedakan waktu dan tempat dalam bersikap, terutama jika di kantor maka kita harus menunjukan penghormatan kita terhadap pangkat dan jabatan rekan atasan kita tersebut.. akan lebih baik lagi jika kita bisa menghargai pribadinya yang sudah bekerja keras sesuai prosedur yang benar dalam mencapai semua itu. Saya pribadi kadang ada perasaan jengkel juga terhadap senior dan atasan, namun perintah adalah perintah yang tetap harus dilaksanakan. Lebih baik melakukan instropeksi terhadap diri sendiri, apakah tindakan saya ini sudah benar sebagai yunior-teman-atasan. Karena tidak ada sosok manusia yang sempurna, yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar



Bukankah biasanya kalo di angkatan…Yang berbicara adalah “Pangkat” ?
Namun, jika umur sudah berperan..mungkin ada baiknya kita ber-adab alias bertata krama kepada yang lebih tua…Bukankah itu kelebihan orang Indonesia..
Entahlah kalo sekarang sudah mulai bergeser…
Aku cinta Indonesia
@ O iya jelas itu, tepatnya lagi pangkat lebih berbicara dalam hal senioritas. Namun apalah artinya pangkat jika kita tidak selalu mengisi diri dan memberi contoh teladan yang baik kepada yang lain.. susah banget
pangkat terkdg membuat orang terpaksa utk dihormati…
@ tidak perlu merasa terpaksa kalau saja kita sadar bahwa itu sudah kewajiban
Menurut saya orang minta dihormati itu wajar kok. Andaikan ia memang wajar untuk dihormati ya kenapa tidak? Namun tentu wujud hormat ada banyak, tidak hanya dalam bentuk salut militer saja. Ya, kita menghormati dia sewajarnya saja tidak perlu berlebihan. Wujud hormat itu banyak kok, misalnya mendengar perkataannya, selalu berbuat baik kepada seseorang dan sebagainya. Jadinya ya, yang wajar2 aja deh, karena wajar juga orang minta dihormati (minimal sedikit).
Tetapi yang paling sebal adalah orang berhormat karena ia ingin menjilat. Uh… paling sebel banget deh. Hehehehe…..
Btw… mas… udah pulang dari Holang ya??
@ sangat wajar pak, malahan menurut saya kita wajib menghormati orang lain dalam segala apapun kondisinya.. hal ini lebih mengacu ke kata “respect”
Tentu berbeda dengan “salute” yang memperhatikan struktur kepangkatan.
Saya sudah kembali ke negeri tercinta ini pak, kok bisa tahu yah? wah paranormal nih
ini situasi sulit & dilematis ya. tapi saya suka sama pemikiran mas Gun, moga2 ada jalan keluarnya, misal: forum keterbukaan. tapi masalahnya, engga semua orang siap dengan perubahan dan mau dikritik, semoga para pimpinan institusi apapun makin bijaksana dalam berpikir, berucap dan bertindak ya.. ^_^
tetep semangat bro..
@ yess… selama bisa dihadapi dengan bijak pasti gak masalah kok bro
tetep semangat !
yang saya ingat dari film band of brothers adalah quote mereka..
“One of all, all for one”…
@ wait!.. wait!.. wait!! bukannya itu semboyan three musketeers ?
Apakah ini pengalaman pribadi?

@ pengalaman banyak orang tuh :-p
the true experience yak ?
@ yepp… I think so for most of us, dont we ?
mmmh… saya lebih suka menghargai orang daripada sekedar “menghormatinya”… sebenernya kesan ke diri saya sendiri sih yang merasa menghargai tingkatannya lebih tinggi daripada menghormati. entahlah betul atau salahnya….
@ saya rasa betul itu… kira2 saya dihargai berapa yah ?? halahhh.. plakk !!!
ndak cuman di dunia militer, di perusahaan saya yang pegang point penting juga PANGKAT/JABATAN dan UMUR
@ saya doakan semoga cepet naek jabatan
…
wahhhh asik klo ngebahas mengenai musik2 dulu
@ kok musik seh ??… woiii!! “Band Of Brothers” tu film perang mas! bukan nama group band musik…
gyahahahahahahah…
ya setuju pak.. lebih baik introspeksi diri drpada nyalahin orang lain..:D
@ kita sealiran mas…
dimana2 yakh selalu pangkat dan jabatan yg jadi tujuan..;)
hmm…kenapa sayah tak sampai sejauh ituh hehehe..
tapi setuju pak,semua ituh bukan segalana dan yg terpenting intropeksi diri dari kesalahan:) setuuujuuu….
@ sejauh apakah maksude ? sejauh mata memandang yak..
saya juga suka memilih jalan memutar daripada harus ketemu saya atasan yang bikin sebal
@ tapi kadang kalo capek ya saya milih jalan tembus juga
dah berapa putaran sekarang ?
Ah, Anda penyuka Band of Brother juga ? Saya sudah menontonnya lebih dari empat kali
@ Tidak pernah bosan saya tonton bung, mungkin saya baru 3 kali menontonnya
tulisannya bagus bang, ini ditemui sehari2. ditempat sy kl sekiranya tugasnya ga masuk akal sy sie suka interupt ke si bos, kl di militer itu bs dilakukan jg ga bang ?
@ Jika perintah itu sudah memberatkan kita masih bisa meminta pengertian dari yang memberi perintah kok brur… yang jelas bukan interupsi seperti debat kusir
seyogyanya segala perintah yang tidak berhub dengan kerjaan dinas diperlakukan sebagai permintaan tolong
Kalau aku lebih mengedepankan atmosfir egaliter di tempat bekerja. Penghormatan lebih ke hal kesantunan saja.
@ lain ladang lain belalang
tapi masalahnya BOS CAN’T BE WRONG –
nah itu yang bikin bete… akhirnya penghormatan kita dan kepatuhan kita nggak ikhlas…
emang sih penghormataan idealnya tanpa syarat..
kayak cinta itu unconditional..
apalagi di linkungan birokrasi..
saya “baru” 3 tahun jadi PNS — dan lama di institusi swasata… beda banget…
halaah kok malah curhat kepanjangan…
maaf-maaf
@ curhatnya saya tampung pak
perbaharui dengan sikap yg bijak….’menaglahah untuk menang, egois & minder bukan jalan emnuju kemenangan
@ roger brur
toh itu pantas karena usahanya kan?
kalau kita usaha, pasti ada hasilnya kan.
lagipula, dunia itu adil kok. kalau kita baik bos juga bakalan baik, meskipun lama juga nunggunya…
tetap semangat!!!
@ Oke !!! semangat terus…
wah… klo itu saya gak ingat..
cuman, klo mereka menghadapi perang yang gak tentu mati atau hidup, mereka bilang
“one for all, all for one..”keren banget…
@ lagi2 diriku dibilang keren
he…he…he…sepertinya klo di AL wajar deh bos, sodara ane aja ada, dia masuk lewat tamtama nah giliran adiknya masuk lewat aal, ya gitu deh seumur2 di kantor ga pernah bertegur sapa (katanya budaya di AL kek gitu) trus klo mo ketemu si kakak terpaksa memakai baju sipil


:D:D
ga tau klo sekarang
klo di AD masih “lebih” beradab meski pangkat rendah klo sudah berumur juga ga terlalu “diapa-apain”
nah yang parah di tempat gw bro, ada seorang eselon 4 yang penjilatnya minta ampun, gila hormat dan sampai2 satu kantor aja muak sama dia….eh orang kek gini kok malah “dipake” terus sama pimpinan yang lebih tinggi
ya ntulah dilema di indonesia
@ kenapa tidak bertegur sapa? kan tergantung waktu dan tempatnya saja..
kyk-nya ttp susah di-implementasikan, tp akan saya coba….
@ good luck..
ahh beruntunglah saya bekerja di sebuah tempat yg lebih menghargai kemampuan individu.
@ perasaan semua tempat kerja kayak gitu deh..
Menghormati lebih menegaskan respek atau tunduk kepada orang lain, sedangkan menghargai lebih terasa ringan dan rendah daripada menghormati
menghormati: pake ngangkat tangan kanan dengan telapak tangan sejajar pelipis kanan.
menghargai: kasi tawaran harganya berapa…..hehehe……. becanda kok
@ menurut saya keduanya sederajat, tergantung tawaran harganya (loohhh..)
OOT : koleksi pilem Band of Brother saya ternyata ilang!!!!
@ waduh… cari lagi cak !
saling hormat itu perlu dan penting
asal jangan gila hormat…
salam
@ salam balik
setuju om..sangat penting untuk menjaga pertemanan kita,,dan sangat penting juga untuk memperhatikan didalam situasi atau kondisi apa kita sedang berada saat itu…